Dia ulang kembali membaca pesan yang masuk ke handphonenya. Ini untuk yang ketiga kalinya ia baca
isi pesan itu. Pesan yang membuat ia menyambut paginya dengan sebuah isakan.
Pesan yang sedikit menorehkan sayatan di hati, tetapi juga memberikan ketenangan
dalam jiwanya atas penantian sebuah jawaban dari doa dan harapannya.
Sebenarnya ia tak layak untuk menangis,
sungguh tak layak. Tetapi, bagaimanapun juga, ia adalah seorang perempuan yang memiliki
perasaan. Menangis menjadi salah satu cara ia melepaskan sesak yang memenuhi
rongga dadanya. Dia tahu, tak seharusnya ia menangisi berita yang tertulis
dalam pesan singkat itu, malah seharusnya senyum bahagia yang ia sunggingkan di
wajah manisnya. Tapi untuk beberapa waktu ini, ia lebih memilih mengalah dengan
perasaan hatinya yang membuncah. Melepaskan semua gundah lewat isak yang tertahan.
Dia mencoba menguasai dirinya. Perlahan ia bangun dari tempat tidurnya.
Kran ia nyalakan. Gemericik air
mengalahkan suara isaknya. Kejernihan hati mulai mengikis masuk dalam kebuntuan
akal yang tadi tertutup rapat jerat emosi kewanitaannya. Perlahan ia tangkupkan
kedua telapak tangannya dalam dingin dan sejuknya air wudhu di pertengahan
malam itu. Khusyu’ ia basuhkan air itu di wajahnya. Ia biarkan dinginnya
meresap masuk ke dalam hatinya. Ia ingin membuang perasaan marah, sedih, kecewa
dalam tetesan air suci yang mengurai dari setiap pori anggota wudhunya.
Dan kini, wanita itu tersungkur dalam
sujud panjangnya. Isaknya menjadi.
“Subhaana
Rabbiyal a’laa.. Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.. Maha Suci Engkau Ya
Rabb.. Sungguh wanita penuh
dosa ini kembali mengharapkan kesempurnaanMu. Kesempurnaan cintaMu.. Aku
kembali mengiba kepadaMu. Mengharapkan anugerah kelapangan hati untuk menerima
semua ketetapan yang Engkau tetapkan. Dan dalam kerapuhan diri ini, izinkan
hamba berlindung dalam ketinggian dan keluasan cintaMu ya Rabb..
Setelah salam
dilafadzkan. Tertengadah kedua tangannya mengharapkan Cinta-Nya. Tangan
itu bergetar hebat seakan tak mampu menangkup doa yang diucap oleh lisannya
dalam keterbataan isak kata.
“Ya Rabbiy,
Wahai Dzat Pemilik hati dan jiwa ini. Segala puji hanya bagiMu ya Allah,
pencipta alam semesta, yang hanya
kepadaMu-lah tempat hamba berlindung. Telah banyak nikmatMu yang hamba rasakan
ya Rabb, tetapi belum sebanding dengan syukur hamba padaMu.
Astaghfirullahal’adzim..Astaghfirullahal’adzim..
Hamba mohon ampunanMu ya Rabbiy. Telah banyak kesalahan dan kekhilafan yang
hamba lakukan ya Rabb, tetapi dengan cinta dan kasih sayangMu, tak pernah
Engkau bosan memberikan maafMu.
Ya Rabbiy,
penggenggam hati ini. Terima kasih atas perasaan cinta yang Engkau karuniakan.
Terima kasih atas perasaan kasih yang Engkau sematkan ke dalam hati. Terima
kasih atas jawaban dari doa-doa yang selama ini hamba panjatkan. Hamba mohon ampun
atas segala khilaf dan kealpaan hamba dari lalainya menjaga karunia cinta dan perasaan kasih yang telah
Engkau sematkan. Hamba percaya...dan hamba yakin bahwa ketetapan yang Engkau
adalah yang terbaik bagi agama, kehidupan dunia dan akhirat hamba. Hamba
kembalikan semua perasaan cinta ini seutuhnya kepadaMu ya Rabb.. dan hamba
percayakan semua urusan hidup hamba kepadaMu. Segala puji hanya bagiMu ya
Rabbiy.. Engkau telah menarik kembali hati dan jiwa ini untuk mendekat
kepadaMu, terima kasih ya Allah atas perlindungan dan penjagaanMu bagi hati
hamba.
Ya Allah, penguasa
hati. Hamba mohon anugerah keikhlasan dalam menerima dan menjalani setiap
ketepatan yang telah Engkau tuliskan dalam kehidupan hamba. Hamba mohon
kebersihan hati ya Allah.. Mohon kebersihan hati ya Allah... Mohon kebersihan
hati ya Rabbiy..... Tercekat suara wanita itu.
Ia biarkan air matanya menenggelamkan
dirinya dalam penghambaan kepada tuhannya, mengharapkan ampunan atas cinta yang
belum saatnya untuk ia tanam. Sebuah kesalahan yang telah ia lakukan.
Adzan subuh
berkumandang. Ia bangkit untuk kembali menghadap penciptanya, pemilik jiwanya.
Ia menghadap Rabbnya dengan hati yang damai. Perlahan, perasaan cinta itu telah
kembali ke jalurnya.
Semoga Allah
memberkahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian. Semoga kalian
senantiasa dalam lindungan dan penjagaan Allah sampai hari bahagia itu. Selamat
menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah dan
dakwah.
Lapang...
Tenang.. Damai.. Tak ada lagi perasaan mengganjal di hati. Semuanya telah
menghilang tersapu mata air kesucianNya.
Untuk
terakhir kalinya, wanita itu kembali membaca pesan yang tampil di layar
handphonenya. Kali ini dengan senyuman termanisnya...
“Bismillahirrahmanirrahiim..
Dengan mengharap rahmat dan ridho Allah SWT, mohon do’a restu atas pernikahan
kami :
Arya Dwi Pangga
dengan Lira Septiana
Yang
insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 12-01-2011 pukul 08.00 s.d selesai
WIB bertempat di kediaman mempelai wanita.
Merupakan
suatu kebahagiaan bagi kami jika saudara/i berkenan untuk hadir. Arya&Lira“
Terima kasih
ya Allah atas jawaban dari pertanyaan hamba selama ini. Hamba mohon anugerah
kebahagiaan bagi sahabatku ini. Ridhakanlah hati atas harap bagi separuh sayap
yang tak nyata, dan karuniakanlah nikmat dengan pengganti yang lebih baik, yang
telah Engkau pilihkan untukku. Yang kelak akan menjadikanku sebagai pemimpin
bidadari di surga baginya. Aamiin.
To be continued...
Note: jagalah hati, jangan kau kotori...
jagalah hati, lentera hidup ini...
Menjaga hati, mudah diucap namun terkadang sulit dilakukan.
Mohon perlindungan dan penjagaanNya selalu, agar hati selalu tertuju kepadaNya.
Dia-lah penggenggam hati dan jiwamu...