Wednesday, May 9, 2012

Cinta itu,, hanya layak untukNya


Dia ulang kembali membaca pesan yang masuk ke handphonenya. Ini untuk yang ketiga kalinya ia baca isi pesan itu. Pesan yang membuat ia menyambut paginya dengan sebuah isakan. Pesan yang sedikit menorehkan sayatan di hati, tetapi juga memberikan ketenangan dalam jiwanya atas penantian sebuah jawaban dari doa dan harapannya.
Sebenarnya ia tak layak untuk menangis, sungguh tak layak. Tetapi, bagaimanapun juga, ia adalah seorang perempuan yang memiliki perasaan. Menangis menjadi salah satu cara ia melepaskan sesak yang memenuhi rongga dadanya. Dia tahu, tak seharusnya ia menangisi berita yang tertulis dalam pesan singkat itu, malah seharusnya senyum bahagia yang ia sunggingkan di wajah manisnya. Tapi untuk beberapa waktu ini, ia lebih memilih mengalah dengan perasaan hatinya yang membuncah. Melepaskan semua gundah lewat isak yang tertahan. Dia mencoba menguasai dirinya. Perlahan ia bangun dari tempat tidurnya.
Kran ia nyalakan. Gemericik air mengalahkan suara isaknya. Kejernihan hati mulai mengikis masuk dalam kebuntuan akal yang tadi tertutup rapat jerat emosi kewanitaannya. Perlahan ia tangkupkan kedua telapak tangannya dalam dingin dan sejuknya air wudhu di pertengahan malam itu. Khusyu’ ia basuhkan air itu di wajahnya. Ia biarkan dinginnya meresap masuk ke dalam hatinya. Ia ingin membuang perasaan marah, sedih, kecewa dalam tetesan air suci yang mengurai dari setiap pori anggota wudhunya.
Dan kini, wanita itu tersungkur dalam sujud panjangnya. Isaknya menjadi.
“Subhaana Rabbiyal a’laa.. Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.. Maha Suci Engkau Ya Rabb.. Sungguh wanita penuh dosa ini kembali mengharapkan kesempurnaanMu. Kesempurnaan cintaMu.. Aku kembali mengiba kepadaMu. Mengharapkan anugerah kelapangan hati untuk menerima semua ketetapan yang Engkau tetapkan. Dan dalam kerapuhan diri ini, izinkan hamba berlindung dalam ketinggian dan keluasan cintaMu ya Rabb..
Setelah salam dilafadzkan. Tertengadah kedua tangannya mengharapkan Cinta-Nya. Tangan itu bergetar hebat seakan tak mampu menangkup doa yang diucap oleh lisannya dalam keterbataan isak kata.
“Ya Rabbiy, Wahai Dzat Pemilik hati dan jiwa ini. Segala puji hanya bagiMu ya Allah, pencipta alam semesta,  yang hanya kepadaMu-lah tempat hamba berlindung. Telah banyak nikmatMu yang hamba rasakan ya Rabb, tetapi belum sebanding dengan syukur hamba padaMu.
Astaghfirullahal’adzim..Astaghfirullahal’adzim.. Hamba mohon ampunanMu ya Rabbiy. Telah banyak kesalahan dan kekhilafan yang hamba lakukan ya Rabb, tetapi dengan cinta dan kasih sayangMu, tak pernah Engkau bosan memberikan maafMu.
Ya Rabbiy, penggenggam hati ini. Terima kasih atas perasaan cinta yang Engkau karuniakan. Terima kasih atas perasaan kasih yang Engkau sematkan ke dalam hati. Terima kasih atas jawaban dari doa-doa yang selama ini hamba panjatkan. Hamba mohon ampun atas segala khilaf dan kealpaan hamba dari lalainya menjaga  karunia cinta dan perasaan kasih yang telah Engkau sematkan. Hamba percaya...dan hamba yakin bahwa ketetapan yang Engkau adalah yang terbaik bagi agama, kehidupan dunia dan akhirat hamba. Hamba kembalikan semua perasaan cinta ini seutuhnya kepadaMu ya Rabb.. dan hamba percayakan semua urusan hidup hamba kepadaMu. Segala puji hanya bagiMu ya Rabbiy.. Engkau telah menarik kembali hati dan jiwa ini untuk mendekat kepadaMu, terima kasih ya Allah atas perlindungan dan penjagaanMu bagi hati hamba.
Ya Allah, penguasa hati. Hamba mohon anugerah keikhlasan dalam menerima dan menjalani setiap ketepatan yang telah Engkau tuliskan dalam kehidupan hamba. Hamba mohon kebersihan hati ya Allah.. Mohon kebersihan hati ya Allah... Mohon kebersihan hati ya Rabbiy..... Tercekat suara wanita itu. Ia biarkan air matanya menenggelamkan dirinya dalam penghambaan kepada tuhannya, mengharapkan ampunan atas cinta yang belum saatnya untuk ia tanam. Sebuah kesalahan yang telah ia lakukan.
Adzan subuh berkumandang. Ia bangkit untuk kembali menghadap penciptanya, pemilik jiwanya. Ia menghadap Rabbnya dengan hati yang damai. Perlahan, perasaan cinta itu telah kembali ke jalurnya.
Semoga Allah memberkahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian. Semoga kalian senantiasa dalam lindungan dan penjagaan Allah sampai hari bahagia itu. Selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah dan dakwah.
Lapang... Tenang.. Damai.. Tak ada lagi perasaan mengganjal di hati. Semuanya telah menghilang tersapu mata air kesucianNya.
Untuk terakhir kalinya, wanita itu kembali membaca pesan yang tampil di layar handphonenya. Kali ini dengan senyuman termanisnya...
“Bismillahirrahmanirrahiim.. Dengan mengharap rahmat dan ridho Allah SWT, mohon do’a restu atas pernikahan kami :
Arya Dwi Pangga dengan Lira Septiana
Yang insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 12-01-2011 pukul 08.00 s.d selesai WIB bertempat di kediaman mempelai wanita.
Merupakan suatu kebahagiaan bagi kami jika saudara/i berkenan untuk hadir. Arya&Lira“
Terima kasih ya Allah atas jawaban dari pertanyaan hamba selama ini. Hamba mohon anugerah kebahagiaan bagi sahabatku ini. Ridhakanlah hati atas harap bagi separuh sayap yang tak nyata, dan karuniakanlah nikmat dengan pengganti yang lebih baik, yang telah Engkau pilihkan untukku. Yang kelak akan menjadikanku sebagai pemimpin bidadari di surga baginya. Aamiin.

To be continued...


Note:  jagalah hati, jangan kau kotori...
           jagalah hati, lentera hidup ini...

Menjaga hati, mudah diucap namun terkadang sulit dilakukan.
Mohon perlindungan dan penjagaanNya selalu, agar hati selalu tertuju kepadaNya.
Dia-lah penggenggam hati dan jiwamu... 























Sunday, June 19, 2011

Amazed


Bismillahirrahmaanirrahiim

Beberapa hari ini, tepatnya beberapa minggu ini selalu mendapatkan kabar-kabar terbaik dari teman dan saudara yang dikenal. Kabar tentang pelaksanaan sunah Rasul untuk menggenapkan setengah dien, menikah-red. Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah (51:49).

Subhanallah, salut buat mereka yang sudah berani mengambil keputusan besar. Seorang ikhwan, yang dengan penuh kesadaran telah berani mengambil tanggung jawab yang selama ini menjadi tanggungjawab seorang ayah terhadap putrinya, sebuah tanggung jawab yang sangat besar, dimana ia akan menjadi seorang pemimpin bagi seseorang yang baru masuk dalam kehidupannya yang kelak-dengan kepemimpinannya itu-akan ia pertanggungjawabkan dihadapan Allah. Sungguh suatu keputusan yang sangat besar.

Begitupun dengan seorang akhwat, yang dengan kesadarannya juga telah memutuskan untuk memberikan ketaatan dan kepatuhannya kepada seorang yang baru datang dalam kehidupannya, yang dengan kesadarannya pula ia memutuskan bahwa si fulan yang akan menjadi pemimpinnya. Itu juga merupakan sebuah keputusan yang besar.

Subhanallah… Maha Suci Allah…

Sungguh luar biasa. Ketika seorang ikhwan bersatu dengan seorang akhwat, seperti apa keluarga yang akan terbentuk? Insya Allah akan terbentuk sebuah keluarga dakwah yang nantinya akan menyumbang umat-umat terbaik di bumi ini. Semoga….


* d(^_^)b *

Friday, June 17, 2011

Mentari Pagi

Selalu dijumpai pada saat pagi menjelang. Tak jarang ia juga yang membangunkanmu yang masih terlelap dan terbuai dari mimpi. Penuh kehangatan dengan sambutan cahayanya yang lembut, menebarkan suasana bahagia di pagi hari. Indah... Ya.. Terkadang ia terlukis indah terapit birunya laut dan bersihnya langit pagi... Dia selalu ada semendung apa pun kondisi pagimu, karena dalam setiap putarannya- akan ada mentari pagi- di bumi.